KEPALA Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang, Drs Rohman, M. Si., menegaskan bahwa langkah Perum Bulog yang akhirnya membuka pintu untuk menyerap gabah dengan skema any quality (semua kualitas) seharga Rp6.500 per kilogram adalah jawaban atas kegelisahan yang selama ini menghimpit.
Setelah dibayangi ketidakpastian, secercah harapan kini mulai menyinari wajah-wajah lesu para petani di pesisir utara Karawang, akibat padi siap dipanen terendam air hujan selama beberapa hari, mengakibatkan harga padi anjlok drastis
"Ini bukan sekadar transaksi jual-beli. Ini adalah kehadiran negara sebagai jangkar penyelamat saat petani kita terjepit oleh alam dan permainan harga," ujar Rohman dengan nada mantap, Rabu (21/1/2026).
Melawan Spekulasi di Tingkat Bawah
Bagi Rohman, selisih harga di lapangan yang sempat menyentuh angka Rp4.000 per kilogram adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan lumbung pangan nasional. Ketika kualitas gabah menurun akibat terendam banjir, petani sering kali menjadi mangsa empuk bagi spekulan.
Namun, dengan komitmen baru Bulog ini, Rohman meminta para petani untuk tidak lagi berkecil hati apalagi terburu-buru menjual hasil panennya dengan harga "asalan".
"Jangan biarkan gabah Anda dihargai rendah karena alasan basah atau rusak. Bulog sudah berkomitmen menerima dengan harga layak. Kami ingin memastikan tidak ada lagi petani yang menangis saat musim panen tiba," tambahnya.
Rohman tak hanya sekadar memberi imbauan. Ia langsung menginstruksikan seluruh jajaran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan Kepala UPTD di setiap kecamatan untuk menjadi "jemput bola". Mereka diminta untuk menyisir setiap sudut sawah, mendata petani yang kesulitan, dan menghubungkan mereka langsung dengan armada penjemput dari Bulog.
Sinergi di Garis Depan
Langkah penyelamatan ini dilakukan secara kolaboratif. Sinergi antara Dinas Pertanian, penyuluh, hingga aparat Babinsa dan Bhabinkamtibmas menjadi mesin penggerak agar instruksi ini sampai ke telinga petani di pelosok desa.
"Instruksi saya jelas kepada jajaran di lapangan: jangan menunggu petani datang ke kantor. Temui mereka di pematang sawah, bantu mereka mengemas gabah, dan pastikan proses pengangkutannya cepat. Kita berpacu dengan waktu agar gabah tidak semakin rusak," tegas Rohman.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dan media untuk ikut mengawal janji Bulog ini. Jika ada oknum yang masih mencoba bermain di bawah harga acuan Rp6.500, Rohman meminta warga segera melapor melalui jalur resmi atau call center yang telah disediakan.
Menjaga Karawang Tetap Perkasa
Sebagai pemimpin di sektor pertanian Karawang, Rohman menyadari bahwa beban yang dipikul petaninya sangatlah berat. Karawang bukan sekadar nama di peta, melainkan tulang punggung pangan yang memberi makan jutaan perut rakyat Indonesia.
"Jika petani kita sejahtera, Karawang akan tetap perkasa. Kedaulatan pangan kita dimulai dari penghargaan yang layak atas setiap butir padi yang mereka tanam," pungkasnya.
Di bawah langit Karawang yang masih mendung, narasi penyelamatan ini membawa pesan kuat: bahwa di tengah bencana sekalipun, selama sinergi pemerintah kuat, harapan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh kembali.***
0 Komentar